Peristiwa-Peristiwa Kontroversial dalam Puncak Kejayaan Khilafah: Sebuah Pembacaan Historis-Kritis



Muhammad Kholid Asyadulloh,
Jurnal Afkaruna, Vol. 10 No. 2 Juli - Desember 2014, halaman 233-249.

Di kalangan Muslim, khilafah sering dipandang sebagai institusi politik terbaik. Sejarah panjang kekhalifahan sejak tahun 632 hingga 1924 dianggap sebagai periode terbaik yang berkontribusi pada kemajuan peradaban Islam. Sehingga para pemimpin suatu kekhalifahan dipandang sebagai teladan.Di balik kekaguman terhadap periode khilafah, tulisan ini mencoba menelusuri sisi lain dari kehidupan kekhalifahan dengan melakukan kajian sejarah. Tak bisa dipungkiri bahwa sejarah kekhalifahan Islam, sebagaimana halnya sistem kerajaan yang lain, juga diwarnai oleh sisi gelap.
Di tengah-tengah peradaban yang mencapai puncak kejayaan, ternyata terselip juga berbagai catatan positif maupun negatif dari para penguasa Islam. Selain banyak perilaku khalifah yang menjunjung tinggi nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan sebagai manifestasi keberislaman, tidak sedikit pula yang melakukan praktik nir-keislaman. Ada khalifah yang menjadi pemain utama dalam penyimpangan seksual. Ada khalifah yang secara terbuka memperlihatkan penyimpangan seksualnya dalam berbentuk romantika percintaan yang kebablasan, hingga yang mempunyai oreintasi seksual sebagai homoseks. Sejarah kekhalifahan bukanlah sejarah yang sakral, namun sebuah priode sejarah yang bisa ditelaah secara kritis.

Haji dan Kesalehan Sosial

Muhammad Kholid Asyadulloh
Peneliti Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya
KOMPAS, 14 September 2015


Pada 21 Agustus ini ribuan jemaah calon haji Indonesia secara bertahap mulai terbang menuju tanah suci Mekkah. Gelombang migrasi religius sesaat ini seharusnya mampu melahirkan pribadi Muslim yang bertransformasi menjadi lebih saleh secara individual maupun sosial.
Sama halnya dengan peristiwa keagamaan lain, rukun Islam kelima ini mengandung makna simbol-metaforis tentang harmoni hubungan vertikal manusia dengan Tuhan (habl min Allah) serta hubungan horizontal antarmanusia (habl min al-nas)
Sayangnya, idealitas itu tidak selamanya terwujud dalam keseharian setelah para jemaah haji kembali ke tanah air. Fenomena ini secara mudah bisa ditangkap dari keberadaan olok-olok masyarakat yang menyebut sosok haji mabur (terbang, Jawa) sebagai pelesetan untuk jemaah yang sekedar terbang naik pesawat ke Mekkah. Sindiran lainnya adalah hajingan sebagai pelesetan “bajingan” merujuk orang yang sudah berhaji tapi masih berkutat dengan kemaksiatan.

Esensi Sosial Status Haji Mabrur

Muhammad Kholid Asyadulloh
Santri Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngruki 1993-1999, Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya
SOLOPOS, 22 Agustus 2015



Pada 21 Agustus ini ribuan jemaah calon haji Indonesia secara bergelombang mulai terbang menuju tanah suci Mekkah. Antusiasme kaum Muslim Indonesia dalam menunaikan ibadah haji memang patut diapresiasi karena peminatnya selalu meningkat setiap musim haji. Fenomena ini tentu cukup membanggakan karena semangat beribadah kaum muslimin terlihat begitu tinggi. Mabrur merupakan salah satu predikat terpenting dalam ibadah yang tak terputus untuk menyempurnakan rukun Islam itu setelah syahadat, shalat, zakat, dan puasa.
Dalam nomenklatur Islam, haji secara lughawi berarti keinginan keras menuju suatu tempat yang sangat diagungkan. Sedangkan secara syar'i, haji berarti berangkat ke tempat yang suci untuk melakukan tawaf, sai, wukuf di Arafah, serta seluruh amalan haji lainnya. Mengerjakan haji merupakan kewajiban hamba Muslim yang mampu (istitha'ah) mengadakan perjalanan ke Baitullah (QS Ali Imron/3: 97). Sedangkan mabrur adalah isim maf'ul dari kata barara (barra) yabirru, birran, baarrun, mabrurun. Kata ini sejatinya bermakna melakukan keba­jikan. Kata mabrur dengan demikian ber­makna orang yang senantiasa dipenuhi kebaikan.

Pendidikan Toleransi dalam Haji

Muhammad Kholid Asyadulloh
Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya, alumnus Pesantren Al-Mukmin Ngruki Surakarta
MEDIA INDONESIA, 14 September 2015



Melalui media massa cetak dan elektronik, publik Indonesia pada hari-hari ini diperlihatkan sebuah pertunjukan akbar yang bernama haji. Meski berlokasi jauh di negeri Arab Saudi, tapi kecanggihan teknologi telah membantu umat Islam di tanah air bisa melihat secara “dekat” sekaligus mengambil ‘ibrah dari ritual tahunan itu. Pelajaran penting yang patut dipetik adalah bagaimana ibadah personal dalam komunal universal ini menjadi media pendidikan untuk meningkatkan toleransi.
Haji secara faktual menampakan wajah Islam yang kosmopolit. Ia menampilkan wajah umat Islam dengan berbagai karakter khas yang dibawa oleh masing-masing jamaah dari negerinya. Haji menjadi ruang sosioreligi yang memungkinkan terjadinya interaksi antar bangsa, meski masih sebatas satu agama, yang seharusnya menumbuhkan sikap apresiatif terhadap perbedaan. Langsung maupun tidak, setiap jemaah “dipaksa” untuk mengaktualisasikan sikap toleransi dengan jemaah lain yang berbeda adat dan budaya, bahasa, warna kulit, bahkan tata cara ibadah.