Mustahik Jadi-jadian Pemburu Zakat

Muhammad Kholid Asyadulloh
Jurnalis alumnus Ponpes Al-Mukmin, Ngruki, Sukoharjo
Jawa Pos, 27 Juli 2012


Tradisi muslim Indonesia yang membayar zakat mal pada Ramadhan atak selamanya berbuah positif, terutama yang dilakukan perorangan. Salah satu fenomena yang cukup ironis adalah kemunculan para pemburu zakat dalam setiap momentum pelaksanaan rukun Islam ketiga ini.  Ibadah ini terkesan tidak lagi menjadi kewajiban pembayar zakat (muzaki) untuk mencari siapa yang secara syar’i berhak menerimanya (mustahik). Yang terjadi justru sebaliknya, mustahik yang harus mencari dan memburu keberadaan muzaki.
Fenomena “pencari” zakat ini secara mudah bisa dilihat pada acara pembagian zakat yang selalu dipenuhi dengan antrean, bahkan berdesak-desakan. Para penerima zakat “dipaksa” hadir secara fisik hanya untuk “menerima” hak mereka pada muslim berkecukupan lebih. Zakat tidak lagi bisa diterima oleh mustahik dengan tetap menjaga harga diri dan kehormatannya, melainkan harus diperjuangkan secara psikis maupun fisik.

Deradikalisasi dengan Peta Buta

Oleh: Muhammad Kholid Asyadulloh
Jurnalis, alumnus Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngruki, Sukoharjo
Sumber: Jawa Pos, 12 Juni 2012


Poso dua pekan terakhir meriang. Kemarin diberitakan ada penembakan terduga teroris, Nurdin, yang direaksi keras oleh warga. Gejala-gejala memilukan itu menjadi penanda bahwa program deradikalisasi terorisme berjalan kurang maksimal. Bom bunuh diri hingga baku tembak yang terjadi di wilayah ini menunjukkan bahwa rantai terorisme masih panjang meski pelaku teror dan kekerasan tersebut dilakukan oleh jaringan lama. Poso menjadi miniatur yang memperlihatkan bahwa program deradikalisasi belum mampu menjangkau benih-benih radikalis di kemudian hari.
Jika benar-benar dilakukan oleh ''jaringan lama'', seharusnya program deradikalisasi yang dilakukan BNPT berhasil menghentikan pergerakan yang bersangkutan sebelum bom meledak atau baku tembak. Jika jaringan dan tempat mereka sudah terdeteksi, logikanya mereka sudah tersaring dalam program deradikalisasi jauh sebelum meledakkan bom. Sayangnya, ajaran radikal terlihat lebih efektif sehingga muncul jaringan baru jika dibandingkan dengan pendidikan untuk mengurangi radikalisme.

Salah Tangkap, Salah Mayat?

Oleh: Muhammad Kholid Asyadulloh
Jurnalis, alumnus Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngruki, Sukoharjo
Sumber: Jawa Pos, 31 Juli 2013



Untuk kali kesekian ketidakcermatan Detasemen Khusus 88 Antiteror kembali memakan korban salah tangkap. Setelah hampir sepekan, Mugi Hartanto dan Sapari akhirnya dibebaskan karena tidak terbukti terlibat dalam tindak terorisme (28/7). Apalagi, dalam dua tahun terakhir, istilah "salah tangkap" memang bukan perkara baru dalam pengungkapan jaringan terorisme.
Kesalahtangkapan ini kontan menimbulkan "desas-desus", jangan-jangan di antara terduga teroris yang tewas ditembak itu juga salah tembak, salah mayat. Bahkan, ada juga yang berkelakar, seandainya ada "Nabi Musa" baru, tentu mayat-mayat tersebut bisa diinterogasi untuk menemukan kebenaran.

Dari ISIS Kembali Belajar (Sejarah) Islam

Muhammad Kholid Asyadulloh
Mahasiswa Pascasarjana UIN Surabaya;
Alumnus Pesantren Al-Mukmin Ngruki Surakarta

MEDIA INDONESIA, 10 November 2014



HARI-hari ini pembicaraan tentang relasi khilafah dan kebajikan Islam menjadi pembicaraan yang menyedot perhatian banyak orang. Itu tidak lepas dari dua deklarasi kekhalifahan yang dilakukan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) berubah menjadi Islamic State (IS) di Timur Tengah (29/6), disusul Boko Haram di Nigeria (24/8). Dua kekhilafahan yang pendiriannya berlumuran darah karena tidak segan membantai siapa saja yang dianggap `kafir'. Aksi yang mengatasnamakan agama itu kontan mengharuskan pemeluk Islam kembali belajar (sejarah) Islam lebih intens.
Pembunuhan dua khilafah yang mengklaim penganut Islam ahlu sunnah wal jamaah(Sunni) itu tidak hanya dilakukan pada nonmuslim, tapi juga mereka yang memegang kuat dua kalimat syahadat. Bukan hanya kalangan muslim Syiah yang sejak awal mereka anggap berbeda, melainkan juga pada sesama kelompok Sunni yang tidak bersepakat dengan perjuangan mereka. Tidak heran jika para pakar pemikir Islam memasukkan keduanya sebagai gerakan Islam `Neokhawarij' karena meyakini muslim yang tidak segaris sebagai kafir.